Teruntuk kau yang baru saja ku lihat.
Kau tau tidak? Aku ingin salto dua kali rasanya saat kita pertama kali bertemu. Kalau kau bilang seperti kupu-kupu yang ingin keluar dari perut, aku seperti ingin mengeluarkan isi perut.
Aku berterimakasih untuk mu yang sudah menyediakan hati yang sedemikian luas. Apakah aku terlalu naif untuk minta maaf? Tapi aku rasa kau tidak akan mendengarkan juga.
Aku senang kau mencintai dirimu sebesar itu. Ada banyak alasan mengapa aku meninggalkanmu. Kalau kata orang, kamu terlalu baik buat aku. Ya, benar juga sih, dan aku terlalu jahat untukmu.
Menurutku, ada hal yang paling tidak masuk akal di dunia ini. Yah, kata-kata barusan.
Aku suka sekali dengan kopi. Kopi itu egois. Mungkin kehilangan mu salah satu keegoisan ku.
Kau bercerita pada semesta, aku tau semesta tidak berpihak padaku. Aku hanya ingin bercerita pada diriku sendiri.
Bohong kalau aku tidak pernah mengingatmu. Kau bukan hanya terlintas, tapi sering kali kau menetap.
Oh iya, kau tidak ingat? Kau pernah bilang dunia ini lucu. Saat kita tertawa, dunia tidak tertawa, tapi kalau kita bersedih, dunia bisa saja menertawaimu. Apakah kau sedang tertawa?
Aku jatuh pada pilihan yang salah, dan aku sedih. Kalau saja aku bisa memutar arah rotasi jam, aku akan memutar sejauh mungkin. Saat bertemu engkau pertama kali.
Hidup ini terlalu realistis. Terkadang aku ingin hidup di dunia fantasi. Bertemu dengan pangeran berkuda, menikah dan hidup bahagia.
Aku tidak berani mengatakan rindu.
Tapi sepertinya ini memang rindu.
Kau bilang ada yang lebih indah dari mencintai seseorang, yaitu mencintai diri sendiri. Benar, kau tidak salah. Mungkin sekarang kita bisa gantian.
Kau tau tidak? Aku ingin salto dua kali rasanya saat kita pertama kali bertemu. Kalau kau bilang seperti kupu-kupu yang ingin keluar dari perut, aku seperti ingin mengeluarkan isi perut.
Aku berterimakasih untuk mu yang sudah menyediakan hati yang sedemikian luas. Apakah aku terlalu naif untuk minta maaf? Tapi aku rasa kau tidak akan mendengarkan juga.
Aku senang kau mencintai dirimu sebesar itu. Ada banyak alasan mengapa aku meninggalkanmu. Kalau kata orang, kamu terlalu baik buat aku. Ya, benar juga sih, dan aku terlalu jahat untukmu.
Menurutku, ada hal yang paling tidak masuk akal di dunia ini. Yah, kata-kata barusan.
Aku suka sekali dengan kopi. Kopi itu egois. Mungkin kehilangan mu salah satu keegoisan ku.
Kau bercerita pada semesta, aku tau semesta tidak berpihak padaku. Aku hanya ingin bercerita pada diriku sendiri.
Bohong kalau aku tidak pernah mengingatmu. Kau bukan hanya terlintas, tapi sering kali kau menetap.
Oh iya, kau tidak ingat? Kau pernah bilang dunia ini lucu. Saat kita tertawa, dunia tidak tertawa, tapi kalau kita bersedih, dunia bisa saja menertawaimu. Apakah kau sedang tertawa?
Aku jatuh pada pilihan yang salah, dan aku sedih. Kalau saja aku bisa memutar arah rotasi jam, aku akan memutar sejauh mungkin. Saat bertemu engkau pertama kali.
Hidup ini terlalu realistis. Terkadang aku ingin hidup di dunia fantasi. Bertemu dengan pangeran berkuda, menikah dan hidup bahagia.
Aku tidak berani mengatakan rindu.
Tapi sepertinya ini memang rindu.
Kau bilang ada yang lebih indah dari mencintai seseorang, yaitu mencintai diri sendiri. Benar, kau tidak salah. Mungkin sekarang kita bisa gantian.
Comments
Post a Comment